INTERPRETASI SIHIR DALAM SURAH AL-BAQARAH AYAT 102 DAN KORELASINYA PADA ERA KONTEMPORER (STUDI KOMPARATIF TAFSIR AT-THABARI DAN TAFSIR AL-MUNIR)

  • Ahmad Irfaanudin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstract

Ilmu adalah elemen penting dalam Islam, diperlukan untuk menjalankan peran sebagai khalifah di bumi. Pepatah "Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina" menegaskan pentingnya mencari ilmu tanpa batas. Ilmu, baik atau buruk, tergantung pada penggunaannya. Sihir, sebagai cabang ilmu, juga demikian; baik jika digunakan untuk kebaikan, buruk jika disalahgunakan. Mayoritas fuqaha dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali menganggap mempelajari sihir haram bahkan kafir, kecuali untuk melawan sihir jahat. Mazhab Syafi'i menganggap haram kecuali jika ada manfaat. Sihir sering disalahgunakan, seperti kasus di Temanggung dan Surabaya. Berdasarkan fenomena tersebut, tulisan ini membahas sihir dalam al-Qur'an dari perspektif dua kitab tafsir: Tafsir al-Munir karya Syeikh Wahbah az-Zuhaili dan Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an karya Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan penafsiran serta relevansinya di era kontemporer. Pendekatan kualitatif dengan jenis Library Research dan analisis teori komparatif digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tafsir sepakat bahwa sihir adalah perbuatan setan dan hanya berpengaruh dengan izin Allah. Namun, Tafsir al-Thabari lebih fokus pada analisis linguistik dan konteks tuduhan kepada Nabi Sulaiman, sementara Wahbah az-Zuhaili memberikan penjelasan lebih luas tentang sifat sihir dan hukumnya dalam Islam.

Downloads

Download data is not yet available.

PlumX Metrics

Published
2024-12-27