Makna Kata Inkār dan Juḥūd dalam Al-Qur’an (Kajian Semantik Toshihiko Izutsu)

  • Ufiqah Yunimanuarsa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Keywords: inkār; juḥūd; semantik; al-qur'an; toshihiko izutsu

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan secara spesifik makna kosa kata yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu kata inkār dan juḥūd. Kedua kata tersebut sering dianggap memiliki makna yang sama yaitu mengingkari. Untuk pemahaman yang lebih mendalam, diperlukan analisis khusus terhadap penggunaannya dalam Al-Qur’an. Dalam konteks ini, analisis bahasa merupakan pendekatan yang tepat. Salah satu analisis bahasa yang relevan adalah semantik Al-Qur’an oleh Toshihiko Izutsu. Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dari sumber primer seperti Al-Qur’an dan buku semantik Toshihiko Izutshu yang berjudul Relasi Tuhan dan Manusia, serta sumber sekunder seperti kamus, buku-buku, tafsir, serta karya ilmiah lainnya. Metode pengolahan data menggunakan metode deskiptif analisis. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa makna inkār menunjukkan pengingakaran terhadap bukti-bukti kebesaran Allah, Al-Qur'an, Rasul, nikmat-nikmat Allah serta pengingkaran terhadap kehidupan akhirat. Pengingkaran ini muncul karena ketidakpercayaan, pembangkangan, kesombongan, tidak bersyukur, dan ketidakmauan untuk mengakui kebenaran. Sementara itu, juḥūd memperlihatkan pengingkaran terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, Al-Qur'an, dan nikmat Allah, meskipun orang tersebut sudah yakin akan kebenarannya. Hal menunjukkan sikap zalim dengan menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya dan karena di dorong oleh rasa sombong.  

Downloads

Download data is not yet available.

PlumX Metrics

Published
2025-03-20