Makna Kata Inkār dan Juḥūd dalam Al-Qur’an (Kajian Semantik Toshihiko Izutsu)
Abstract
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan secara spesifik makna kosa kata yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu kata inkār dan juḥūd. Kedua kata tersebut sering dianggap memiliki makna yang sama yaitu mengingkari. Untuk pemahaman yang lebih mendalam, diperlukan analisis khusus terhadap penggunaannya dalam Al-Qur’an. Dalam konteks ini, analisis bahasa merupakan pendekatan yang tepat. Salah satu analisis bahasa yang relevan adalah semantik Al-Qur’an oleh Toshihiko Izutsu. Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dari sumber primer seperti Al-Qur’an dan buku semantik Toshihiko Izutshu yang berjudul Relasi Tuhan dan Manusia, serta sumber sekunder seperti kamus, buku-buku, tafsir, serta karya ilmiah lainnya. Metode pengolahan data menggunakan metode deskiptif analisis. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa makna inkār menunjukkan pengingakaran terhadap bukti-bukti kebesaran Allah, Al-Qur'an, Rasul, nikmat-nikmat Allah serta pengingkaran terhadap kehidupan akhirat. Pengingkaran ini muncul karena ketidakpercayaan, pembangkangan, kesombongan, tidak bersyukur, dan ketidakmauan untuk mengakui kebenaran. Sementara itu, juḥūd memperlihatkan pengingkaran terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, Al-Qur'an, dan nikmat Allah, meskipun orang tersebut sudah yakin akan kebenarannya. Hal menunjukkan sikap zalim dengan menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya dan karena di dorong oleh rasa sombong.
