https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mashahif/issue/feedMashahif: Journal of Qur'an and Hadits Studies2026-04-30T14:22:09+00:00Nurul Istiqomahmasahif@uin-malang.ac.idOpen Journal Systems<p><strong>Mashahif: Journal of Qur'an and Hadits Studies</strong> merupakan sarana komunikasi dan publikasi ilmiah yang berasal dari riset-riset di bidang ilmu al-qur'an dan ilmu hadits dengan berbagai aspek dan pendekatan. Mashahif diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Redaksi menyambut dengan hangat setiap kontribusi para sarjana dari disiplin keilmuan terkait.</p> <p>ISSN (Online): <a href="https://issn.lipi.go.id/terbit/detail/20210929210509543">2808-1749</a></p>https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mashahif/article/view/19906Pendekatan Komunikatif Ramah Anak dalam Tafsir Afif Muhammad terhadap Q.S. Al-Infithar2025-11-23T05:13:28+00:00Rizka Amaliahrizkaamaliahwso@gmail.comAbdullah Hamdani Husainabdullahhamdanihusain@gmail.comAbdullah Hamdani Husainabdullahhamdanihusain@gmail.com<p>Teks-teks eskatologis dalam Al-Qur'an perlu diterjemahkan dengan hati-hati, terlebih jika objek pembacanya adalah anak-anak. Afif Muhammad adalah salah satu ulama kontemporer yang berfokus pada penerjemahan teks Al-Qur’an untuk anak-anak. Salah satu surat yang diterjemahkannya adalah Al-Infithar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi bentuk-bentuk penyederhanaan tafsir QS Al-Infithar ayat 1–9 dalam karya Afif Muhammad yang ditujukan bagi pembaca anak, serta (2) menganalisis karakteristik pendekatan komunikatif yang digunakan dalam penyajian makna ayat-ayat tersebut. Dengan menggunakan metode analisis isi dan pendekatan komunikatif dalam studi tafsir, penelitian ini menelaah bentuk penyederhanaan dilakukan melalui perangkat ilustrasi, narasi dialogis, dan <em>kotak bahasa</em> yang memaparkan makna leksikal kata kunci. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penyederhanaan tafsir dilakukan melalui reduksi konsep abstrak menjadi representasi visual dan verbal yang mudah dipahami anak. Sementara pendekatan komunikatif tampak melalui penggunaan bahasa yang bersifat interaktif, persuasif, dan kontekstual sehingga membangun kedekatan antara teks, pembaca, dan pesan moral yang dikandung ayat. Penelitian ini menegaskan pentingnya strategi penyampaian tafsir yang ramah anak, baik dari sisi linguistik maupun pedagogis, untuk mendukung literasi keagamaan sejak usia dini.</p>2025-11-23T05:11:23+00:00##submission.copyrightStatement##https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mashahif/article/view/14814Kontestasi Otoritas Tafsir Ayat-Ayat Teologis Di Media Sosial Instagram2026-01-06T05:25:56+00:00Yolan Hardika Pratamajumarialfiani0107@gmail.com<p>Penelitian ini mengeksplorasi kontestasi otoritas tafsir ayat-ayat teologis antara kelompok Salafi dan Ahlussunnah Wal-Jamā’ah (Aswaja) di media sosial Instagram, sebuah platform yang telah menjadi ruang baru untuk dialog dan perdebatan teologis. Tujuan utama penelitian adalah untuk memahami bagaimana kedua kelompok ini menafsirkan konsep-konsep seperti "istiwā" dan sifat-sifat Allah serta dampaknya terhadap komunitas Muslim dan masyarakat umum. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis, memfokuskan pada analisis konten dari postingan Instagram yang mewakili kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan pendekatan tafsir antara kelompok Salafi, yang cenderung literal dan tekstual, dan kelompok Aswaja yang lebih mengutamakan konteks historis dan interpretasi simbolik. Kontestasi ini menciptakan polarisasi dan 'echo chambers' di media sosial, mempengaruhi persepsi dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam. Penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai bagaimana diskusi keagamaan di media sosial mempengaruhi dinamika sosial dan keagamaan, serta menyoroti pentingnya literasi media dan pendekatan kritis dalam menavigasi informasi keagamaan di era digital.</p> <p> </p>2026-01-06T05:25:56+00:00##submission.copyrightStatement##https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mashahif/article/view/17404Telaah Pentashihan Rasm dan Dhabt Q.S. As-Sajdah: Studi Komparatif Kitab Majmūʹ Syarīf Pustaka Agung Harapan Surabaya dan Mushaf Standar Utsmānī Indonesia2026-04-16T07:24:03+00:00Mahathir Bin Udarmahathirdey024@gmail.comNajib Irsyadinajibirsyad@uin-antasari.ac.id<p>Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif perbedaan aspek <em>rasm</em> (tulisan) dan <em>dhabt</em> (tanda baca dan tajwid) dalam Surah <em>as-Sajdah</em> antara buku <em>Majmūʹ Syarīf</em> terbitan Pustaka Agung Harapan Surabaya dan Mushaf Standar Utsmānī Indonesia. Latar belakang penelitian ini adalah ditemukannya mushaf populer non-standar yang digunakan secara luas oleh masyarakat, namun tidak melalui proses pentashihan resmi yang ditetapkan oleh Lajnah Pentashih Mushaf al-Qur’an (LPMQ). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-komparatif, dan mengandalkan sumber data primer berupa teks kedua mushaf serta data sekunder dari literatur ilmu rasm dan dhabt. Teknik pengumpulan data mencakup dokumentasi dan studi pustaka, dengan analisis yang meliputi identifikasi, klasifikasi, komparasi, dan evaluasi kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>Majmūʹ Syarīf</em> memiliki banyak perbedaan dari aspek rasm, seperti bentuk huruf dan penggunaan <em>alif</em> yang tidak sesuai standar, serta dari aspek <em>dhabt</em>, seperti peletakan <em>harakat</em>, tanda <em>waqf</em>, dan simbol tajwid yang inkonsisten. Perbedaan ini berdampak pada keterbacaan, akurasi bacaan, dan potensi kesalahan pemahaman terhadap makna ayat. Penelitian ini menegaskan pentingnya edukasi dan standarisasi mushaf, serta perlunya pembaruan cetak ulang bagi mushaf non-standar dalam konteks ibadah dan pembelajaran formal.</p>2026-04-16T07:24:02+00:00##submission.copyrightStatement##https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mashahif/article/view/25683KONSEP PENCIPTAAN ALAM SEMESTA PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN BIBEL2026-04-30T08:43:46+00:00M. Zia Al-Ayyubiziamuhammad15@uin-malang.ac.id<p>Abstrak</p> <p>Dengan menggunakan metode tematik-komparatif dengan model kajian library research¸tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran konsep penciptaan Alam semesta antara Al-Qur’an dan Bibel dan bagaimana relevansinya terhadap perhatian ekologi-alam dunia. Diskusi tentang penciptaan alam semesta berlangsung sejak abad sebelum masehi, tepatnya sejak era Yunani Kuno di mana pada saat itu kecanggihan tekhnologi tidak seperti era sekarang ini. Dapat dikatakan, kemisterian alam semesta menjadi topik menarik dalam sebuah diskusi sains. Bahkan sampai saat ini manusia baru mengetahui sepersekian persen dari kemisterian pengetahuan alam semesta. Narasi normatif penciptaan alam semesta diinformasikan dalam teks agama-agama, Al-Qur’an dan Bibel adalah salah satunya. Adapun hasil yang ditemukan setidaknya terdapat dua poin, pertama, bahwasanya pembahasan mengenai penciptaan alam sangat kental dengan unsur teologis. Perspektif Al-Qur’an maupun Bibel menyebutkan bahwa Tuhan merekalah yang diyakini sebagai pencipta alam semesta. Perihal tentang masa penciptaan alam, keduanya juga memiliki persamaan, yakni alam diciptakan dalam enam hari. Terdapat perdebatan penggunaan kata hari, apakah kata tersebut bermakna harfiyah, atau majazi. Adapun dari segi perbedaannya, Al-Qur’an secara eksplisit tidak menyebutkan informasi rincian proses penciptaan alam pada setiap harinya. Sebaliknya, dalam Bibel secara eksplisit disebutkan. Kedua, pemaknaan ayat kauniyah-teologis untuk saat ini, bahwa tidak dapat dipungkiri maksud Sang Pencipta menciptakan alam adalah untuk ruang kehidupan makhluk yang mendiaminya dan agar peduli dengan lingkungan dan alam, perlu sebuah pedoman agar kesinambungan dan keharmonisan alam dan manusia tetap terjaga.</p> <p>Kata Kunci: Al-Qur’an, Bibel, ekologi, penciptaan alam semesta.</p> <p> Abstract</p> <p>By using the thematic-comparative method with a library research model, this paper aims to explain the description of the concept of the creation of the universe between the Qur'an and the Bible and how it’s relevant to the world's natural-ecological concerns. Discussions about the creation of the universe have been going on since centuries BC, precisely since the era of Ancient Greece where the sophistication of technology. Arguably, that the mysteriousness of the universe is an interesting topic in a scientific discussion. Even today, humans only know a little bit of the mysterious knowledge of the universe. The normative naration of the creation of the universe is informed in religious texts, the Qur'an and the Bible being one of them. The results found are at least two points, first, that the discussion of the creation of nature is very condensed with theological elements. Both the Qur'an and Biblical perspectives state that their God is the creator of the universe. Regarding the period of creation of nature, both also have similarities, namely that nature was created in six days. There is a debateble on term “day”, whether the word means harfiyah, or majazi. The differences, the Qur'an explicitly does’t mention detailed information on the process of creating nature on each day. In contrast, the Bible explicitly mentioned it. Secondly, the interpretation of kauniyah-theological verses for today, it cannot be denied that the intention of the Creator to create nature is for the space of creature life that inhabit it, in order they care about the environment and nature. A guideline is needed, so the sustainability and harmony of nature and humans are maintained.</p> <p>Keywords: The Quran, Bible, ecology, creation of the universe</p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p>2025-08-01T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mashahif/article/view/25682Budaya Lokal Nusantara Perspektif As-Sa’di2026-04-30T14:22:09+00:00Muchammad Akromakromafdhol@gmail.com<p>Islam tidak hanya menghadirkan hukum-hukum yang bersifat tetap (<em>immutable</em>), tetapi juga menyampaikan pesan-pesan terkait budaya dan adat istiadat yang dapat beradaptasi dengan ruang dan waktu. Artikel ini mengeksplorasi fleksibilitas budaya melalui prinsip-prinsip penafsiran Abdurrahman As-Sa’di dalam kitab <em>Al-Qawa’id Al-Hisan</em>, dengan fokus pada konteks Nusantara. Studi-studi sebelumnya belum mengkaji prinsip ke-21 As-Sa’di dalam kaitannya dengan tradisi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana penafsiran Islam memandang budaya lokal serta bagaimana tradisi lokal dan budaya Islam berharmonisasi di Nusantara. Menggunakan metode penelitian kepustakaan (<em>library research</em>), studi ini menganalisis prinsip-prinsip penafsiran Al-Qur’an menurut As-Sa’di. Temuan penelitian menunjukkan bahwa budaya Nusantara dibentuk oleh akulturasi dan asimilasi antara ajaran Islam dan tradisi leluhur, yang menjaga nilai-nilai Islam tanpa menghapus warisan lokal. Keragaman tersebut tidaklah bertentangan, karena Al-Qur’an mengizinkan variasi adat istiadat di berbagai waktu dan tempat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan landasan bagi studi lebih lanjut mengenai tema-tema serupa.</p>2025-08-03T00:00:00+00:00##submission.copyrightStatement##