Bajapuik di Minangkabau-Pariaman

Tradisi yang sering disalahpahami

  • Dwi Ananda Putri Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Keywords: Bajapuik; uang Japuik; pernikahan; tradisi; Minangkabau-Pariaman

Abstract

Artikel ini berisi penejelasan tentang kesalahpahaman umum yang terjadi di kalangan masyarakat mengenai tradisi Bajapuik yang ada di daerah Pariaman-Sumatera Barat. Kebanyakan orang mengira tradisi ini adalah tradisi menjual anak laki-laki kepada keluarga perempuan, padahal dibalik tradisi ini terdapat makna yang mendalam dan tradisi ini juga mengandung beberapa nilai kehidupan di dalamnya. Walaupun dalam praktiknya pada zaman sekarang, tradisi ini mungkin mengalami beberapa perubahan dalam pelaksanaannya dan tidak se-otentik zaman dahulu, namun hal ini tidak bisa dijadikan patokan bahwa tradisi ini tidak sama lagi dengan yang aslinya dan mengarah kepada hal-hal yang bersifat negatif. Pemahaman yang tepat mengenai tradisi ini penting untuk ditanamkan agar tradisi bajapuik dapat dilihat dari perspektif yang benar dan positif serta untuk mengapresiasi kekayaan budaya dan tradisi yang ada di Minangkabau.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al Faruqie, F. (2019). Implikasi tradisi uang jemputan terhadap pemberian mahar dalam perkawinan di Kota Pariaman. Institutional Repository UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/38624/

Amelia, R., & Rahmania, R. (2019). Budaya hukum perkawinan Bajapuik bagi masyarakat Pariaman. Lex Jurnalica, 16(2), 144–152. https://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Lex/article/view/2896

Andriyansyah., & Riza, Y. (2022). Tradisi Bajapuik masyarakat Minangkabau di Pariaman. Jurnal Budaya Nusantara, 5(3), 137–143. https://doi.org/10.36456/b.nusantara.vol5.no3.a5707

Anita, N., & Brata, N. T. (2023). Makna Budaya Bajapuik dalam Pernikahan Etnis Minangkabau di Kota Pariaman Sumatra Barat. Aceh Anthropological Journal, 7(2), 255. https://ojs.unimal.ac.id/index.php/AAJ/article/view/12718

Gustiana, R. (2021). Pluralitas hukum perkawinan adat Pariaman. Morality: Jurnal Ilmu Hukum, 7(1), 22–51. http://dx.doi.org/10.52947/morality.v7i1.188

Istiqamah, L. (2018). Tradisi Bajapuik pada perkawinan masyarakat Pariaman di Kelurahan Tuah Karya Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru. Digilib Perpustakaan Universitas Riau. https://digilib.unri.ac.id/index.php?p=show_detail&id=77039&keywords=

Juliandi, B., & Fadil, M. R. (2023). Tangis bundo kanduang: Sub-altern perempuan Minang dalam Tradisi Bajapuik di Pariaman. Tasyri’ : Journal of Islamic Law, 2(2), 271–296. https://doi.org/10.53038/tsyr.v2i2.81

Nur, A., Suri, N., & Pujiati, P. (2024). Tinjauan etnografi terhadap tradisi Bajapuik dalam Adat Minangkabau di Pariaman, Sumatera Barat. Mukadimah: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-Ilmu Sosial, 8(1), 170–175. https://doi.org/10.30743/mkd.v8i1.8708

Rahayu, R. G. (2023). Pergeseran makna tradisi Bajapuik adat pernikahan Pariaman. Dialektika Komunika: Jurnal Kajian Komunikasi dan Pembangunan Daerah, 11(1), 16–25. https://doi.org/10.33592/dk.v11i1.3628

Surahman, Y. (2023). Dokumentasi informasi tradisi Bajapuik di Nagari Campago Kecamatan V Koto Kampung dalam Kabupaten Padang Pariaman. Makalah Tugas Akhir. https://anyflip.com/zxyhk/oxth/

PlumX Metrics

Published
2024-11-30
How to Cite
Putri, D. (2024). Bajapuik di Minangkabau-Pariaman. Maliki Interdisciplinary Journal, 2(11). Retrieved from https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/11455
Section
Articles