Ashabul A’raf dan Konsep Manzilah bayn al-Manzilatain

Studi Komperatif Tafsir al-Kasysyaf dan Tafsir Ibnu Katsir

Penulis

  • Fitria Ningsih Teknik Arsitektur, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Kata Kunci:

Al-A'raf, Tafsir, Manzilah baina al-Manzilatain, Al Qur’an, Studi Komperatif

Abstrak

Al-Qur’an mengajarkan bahwasanya  ada kehidupan lain yang lebih baik setelah kehidupan di dunia yang disebut akhirat. Di akhirat inilah semua makhluk mempertanggungjawabkan amalnya selama di dunia. Jika amal baiknya lebih banyak maka ia akan bertempat di surga, sedangkan jika amal buruknya lebih banyak, maka ia akan bertempat di neraka. Di al-Qur’an pula terdapat ayat yang menjelaskan sebuah tempat yang bernama al-A’raf, tempat yang ada di antara surga dan neraka. Mengenai ini, ulama-ulama mufassir memiliki pendapat yang berbeda mengenai siapa dan bagaimana nasib penghuni al-A’raf tersebut. Salah seorang mufassir terkenal dari kalangan Mu’tazilah, al-Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf menafsirkan bahwa penghuni al-A’raf adalah orang yang melakukan dosa besar dari kalangan orang mukmin. Orang tersebut tidak masuk surga lantaran dosanya dan tidak masuk neraka karena keimanannya. Penafsiran ini mendapat pengaruh kuat dari ajaran Mu’tazilah yang dikenal dengan manzilah baina al-Manzilatain. Mufassir lain yang tidak kalah masyhur yaitu Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menafsirkan bahwa penghuni Al-A’raf ini adalah orang yang amal baik dan buruknya seimbang. Mereka menunggu di tempat tinggi (al-A’raf) hingga Allah memutuskan mereka untuk masuk surga. Oleh sebab perbedaan itulah penulis ingin mengkaji perbedaan penafsiran kedua mufassir ini melalui metode, pendekatan penafsiran maupun latar belakang keilmuan mufassir tersebut.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Adz-Dzahabi, M. H., Husein, M., & Ilyas, H. (2015). Penyimpangan-penyimpangan dalam Penafsiran Al-Qur’an. Raja Grafindo Persada.

Eliade, M. (1995). The Encyclopedia of Religion (C. Adam, Ed.). Macmillan.

Ghafur, S. (2008). Profil para Mufasir Al-Qur’an (A. Salamullah, Ed.). Pustaka Insani Madani.

Humaira, D., Nisa, K., & Al-Qur’an Dan Tafsir, I. (2016). UNSUR I’TIZALI DALAM TAFSIR AL-KASYSYAF (Kajian Kritis Metodologi Al-Zamakhsyari). In Annas Rolli Muchlisin Maghza (Vol. 1, Issue 1).

Khan, M. (2012). 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah. Buku Noura.

Kuswaya, A. (2009). Metode Tafsir Alternatif: Kritik Hassan Hanafi terhadap Metode Tafsir Klasik. Mitra Cendekia.

Mustaqim, A., & Qudsy, S. (2008). Pergeseran Epistemologi Tafsir. Pustaka Pelajar.

Quthan, M. (1995). Pembahasan Ilmu Al-Qur’an. Rineka Cipta.

Sholehudin, M. (2020). Kontekstualisasi Konsep Keluarga Sakinah: Pergulatan Pemikiran Hukum Keluarga dalam Tafsir Salaf. Hukum & Syari’ah, 12(2).

Tafsirquran.id. (2021, March 18). Siapakah Ashab Al-A’raf itu? Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 46-49.

Wargadinata, W. (2007). Perkembangan Pemikiran Zaman Abbasiah sebagai Akar Tafsir ilmy Abad Modern. 9.

Zakiyah, E. (2022). Teosofi (Modul Pembelajaran tentang Mengenal Tuhan).

Unduhan

Diterbitkan

2023-12-27

Cara Mengutip

Ningsih, F. (2023). Ashabul A’raf dan Konsep Manzilah bayn al-Manzilatain: Studi Komperatif Tafsir al-Kasysyaf dan Tafsir Ibnu Katsir. Maliki Interdisciplinary Journal, 1(4), 193–201. Diambil dari https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/5086