Problematika kedudukan dan kewenangan peraturan Mahkamah Agung (PERMA) dalam sistem ketatanegaraan Indonesia

Authors

  • Dini Febriana Sofi Program Studi Hukum Tata Negara Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Keywords:

PERMA, supreme court, judicial legislation, separation of powers, constitutional

Abstract

The Supreme Court Regulation (PERMA) is a regulatory instrument established by the Supreme Court to support the effectiveness of the administration of justice in Indonesia. PERMA serves to fill legal gaps, clarify technical provisions of the judiciary, and support the realization of the principles of simple, fast, and low-cost justice. However, the development of PERMA has given rise to debate when its substance is considered no longer limited to technical and administrative aspects, but also contains new legal norms of a general nature. This study aims to analyze the position of PERMA in the legal regulatory system, the authority of the Supreme Court in establishing PERMA viewed from the perspective of constitutional law, and the problems of PERMA that contain new norms. This study uses a normative legal research method with a statutory and conceptual approach. The results show that PERMA is recognized under Article 8 of Law Number 12 of 2011 even though it is not included in the main hierarchy of laws and regulations. The Supreme Court's authority to establish PERMA is a form of constitutional necessity, but must still be limited by the principles of legality, separation of powers, judicial restraint, and checks and balances to prevent the expansion of judicial functions into the realm of legislation.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Annisa. (2020). Analisis Hukum E-Litigasi Jo. Perma Nomor 1 Tahun 2019 Tentang Administrasi Perkara Dan Persidangan Di Pengadilan Secara Elektronik Dihubungkan Dengan Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo. Undang- Undang Nomor 3 Tahun 2006 JO. Undang- Undang Nomor 50 Tahun 2009. Jurnal Negara dan Keadilan, 9(2), 180.

Ariani, N. V. (2018). Gugatan Sederhana dalam Sistem Peradilan di Indonesia (Small Claim Lawsuit in Indonesian Justice System) Nevey. Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, 18(3), 381–383.

Bearly Deo Syahputra, E. P. K. (2021). Problematika Keabsahan Pembuktian Pada Implementasi Persidangan Elektronik (E-Litigasi). Supremasi Hukum :Jurnal Penelitian Hukum, 30(2), 148.

Bhakti, T. S. (2014). Rancangan Undang-Undang Mahkamah Agung (RUU MA): Pengkajian Filosofi, Sejarah, Asas, Norma dalam Dinamika Ketatanegaraan Indonesia. Jurnal Hukum Dan Peradilan, 3(2), 137–148.

Dehi, A. P. (2013). Tinjauan Yuridis Terhadap Kedudukan Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Dalam Hierarki Peraturan Perundangundangan di Indonesia.

Djaman, R. P. (2018). Titik Singgung Kewenangan Perubahan Perundang – Undangan Antara Badan Legislatif Dan Badan Yudikatif (Studi Tentang Peraturan Mahkamah Agung No 2 Tahun 2012 Tentang Batasan Tindak Pidana Ringan Dan Jumlah Denda). Lex Administratum, 6(2), 108.

Fathorrahman. (2018). Peraturan Delegasi Dalam Sistem Peraturan Perudang-Undangan Indonesia. JURNAL RECHTENS, 7(2), 193–194.

Hakim, M. A. (2022). Problematika Penanganan Gugatan Perbuatan Melanggar Hukum oleh Pemerintah ( onrechtmatige overheidsdaad ) pada Peradilan Tata Usaha Negara. De Jure: Jurnal Hukum Dan Syar’iah, 14(1), 128. https://repository.uin-malang.ac.id/11155/

Nelly Mulia Husma, Faisal A. Rani, S. H. (2017). Kewenangan Pengaturan Mahkamah Agung (Kajian Yuridis Terhadap Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2016 Tentang Larangan Peninjauan Kembali Putusan Praperadilan). Syiah Kuala Law Journal, 1(1), 2.

Nugroho, A. A., & Yasin, I. F. (2025). Kedudukan Peraturan Mahkamah Agung ( PERMA ) Dalam Hierarki Peraturan Perundang-Undangan. Justitiable Jurnal Hukum, 7(2), 137.

Parikesit, R. A. (2021). Penerapan Asas Legalitas (Legaliteit Beginsel/Wetmatigheid Van Bestuur) Dalam Kebijakan Sentralisasi Pengharmonisasian Peraturan Perundang-Undangan. Jurnal Legislasi Indonesia, 18(4), 454.

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana (2015).

Pitoy, C. B. (2018). PERSpektif Perubahan Perundang – Undangan Oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia, Kajian Terhadap Terbitnya Peraturan Mahkamah Agung No 2 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana. Lex Administratum, 6(3), 183.

Simanjuntak, E. (2013). Kewenangan Hak Uji Materil Pada Mahkamah Agung RI. Jurnal Hukum Dan Peradilan, 2(3), 337.

Subiyanto, A. E. (2012). Mendesain Kewenangan Kekuasaan Kehakiman Setelah Perubahan UUD 1945. Jurnal Konstitusi, 9(4), 666.

Sukadi, I. (2020). Asas Contrarius Actus Sebagai Kontrol Pemerintah Terhadap Kebebasan Berserikat Dan Berkumpul di Indonesia. Jurnal Mimbar Keadilan, 12(2), 189–190. https://repository.uin-malang.ac.id/4546/3/4546.pdf

Sukadi, I. (2021). Sistem Pemerintahan Indonesia dan Implikasinya Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara. Jurnal Hukum Bisnis Bonum Commune, 4(1), 123. https://repository.uin-malang.ac.id/7906/

Sunarto. (2016). Prinsip Checks And Balances Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Jurnal Masalah - Masalah Hukum, 45(2), 159–162.

Tamin, B. E. D. (2018). Tinjauan Yuridis Terhadap Kedudukan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Dalam Hierarki Peraturan Perundang- Undangan Di Indonesia. Lex Administratum, 4(3), 113–115.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (1945).

Published

2026-11-02

How to Cite

Sofi, D. F. (2026). Problematika kedudukan dan kewenangan peraturan Mahkamah Agung (PERMA) dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Maliki Interdisciplinary Journal, 4(11), 588–597. Retrieved from https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/view/31011

Issue

Section

Articles