ANALISIS PEMETAAN DISTRIBUSI PETANI BERBASIS DATA SPASIAL MENGGUNAKAN APLIKASI QGIS DI KECAMATAN DAMPIT
Abstract
Dampit District in Malang Regency has great agricultural potential, but there is a problem with the uneven distribution of farmers. The purpose of this study is to analyze the distribution of farmers using a spatial approach based on SHP data using QGIS. The main focus of this study is the mismatch between the number of farmers and the area of productive land, because there are villages that have fertile land but lack managers, and other villages that have many farmers but little productive land. Quantitative methods are used, with spatial mapping using the Jenks classification (Breaks Alam) to divide the number of farmers into low, medium, and high categories. The results of the study indicate that mapping the distribution of farmers spatially can not only present accurate and easy-to-understand information, but can also serve as a strategic basis for making effective policies for equitable agricultural development and resource allocation. Local governments can use the resulting spatial visualization to determine the priority scale of interventions, understand village agrarian transformation patterns, and create data-based policies to support sustainable agricultural sector growth in Dampit District.
ABSTRAK
Kecamatan Dampit di Kabupaten Malang memiliki potensi pertanian yang besar, tetapi ada masalah dengan distribusi petani yang tidak merata. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis distribusi petani dengan menggunakan pendekatan spasial berbasis data SHP menggunakan QGIS. Fokus utama penelitian ini adalah ketidaksesuaian antara jumlah petani dan luas lahan produktif, karena ada desa-desa yang memiliki lahan yang subur tetapi kekurangan pengelola, dan desa-desa lain yang memiliki banyak petani tetapi sedikit lahan produktif. Metode kuantitatif digunakan, dengan pemetaan spasial menggunakan klasifikasi Jenks (Breaks Alam) untuk membagi jumlah petani ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemetaan distribusi petani secara spasial tidak hanya dapat menyajikan informasi yang akurat dan mudah dipahami, tetapi juga dapat berfungsi sebagai dasar strategis dalam pembuatan kebijakan yang efektif untuk pemerataan pembangunan pertanian dan pengalokasian sumber daya. Pemerintah daerah dapat menggunakan visualisasi spasial yang dihasilkan untuk menentukan skala prioritas intervensi, memahami pola transformasi agraria desa, dan membuat kebijakan berbasis data untuk mendukung pertumbuhan sektor pertanian yang berkelanjutan di Kecamatan Dampit.
Downloads
References
Andayani, N., Hartawan, W., & Maulana, A. (2022). Perancangan Sistem Pemetaan Wilayah Calon Pelanggan Dengan Menggunakan Qgis Pada Pt. Indonesia Comnets Plus (Icon+) Sbu Bengkulu. Jurnal Informatika, 1(2), 1–12. https://doi.org/10.57094/ji.v1i2.357
Aulia S, A., Elmanisa, A. M., & Gunawan, M. P. (2009). Pola Distribusi Spasial Minimarket di Kota–Kota Kecil. Journal Perencenaan Wilayah Dan Kota, 20(2), 78–94.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang. (2024). BP. https://malangkab.bps.go.id/
Ezrahayu, P., Julius, M. A., & Aritonang, S. (2024). Penggunaan Aplikasi QGIS Processing Modeler dalam Menentukan Potensi Bencana Tanah Longsor di Kabupaten Bogor. Geodika: Jurnal Kajian Ilmu Dan Pendidikan Geografi, 8(1), 41–52. https://doi.org/10.29408/geodika.v8i1.25729
Fajar, K. I. D., Rijanta, R., & Kurniawan, A. (2022). Eksplorasi Variabel Pembangunan Berkelanjutan untuk Indeks Desa Membangun Pulau Jawa. Majalah Geografi Indonesia, 37(1), 68. https://doi.org/10.22146/mgi.73056
Fajrillah, Ardiansyah, R., Andini, T., Juliani, R., Putri, M. T., & Idris, I. (2022). Sistem Informasi Geografis Pemetaaan Lokasi Wisata Di Sumatera Barat Berbasis Webgis Menggunakan Qgis. Jurnal Multimedia Dan Teknologi Informasi (Jatilima), 4(01), 14–24. https://doi.org/10.54209/jatilima.v4i01.297
Fenando. (2021). Sistem Informasi Geografis (SIG) Pemetaan Lokasi Pertambangan Batu Bara Berbasis Quantum GIS (Studi Kasus: PT. Hasil Bumi Kalimantan). Journal of Information Systems and Informatics, 3(1), 108–120. https://doi.org/10.33557/journalisi.v3i1.94
Harfian, B., Sukanto, A. R., Nugraha, R. F. I., Dewanto, R., Ahmad, S. Wi., & Irawan, L. Y. (2024). Identifikasi Kesesuaian Lahan Sawah Irigasi DI Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Geography : Jurnal Kajian, Penelitian Dan Pengembangan, 12(2), 661–670.
Koentjaraningrat. (1981). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: UI Press.
Lirik Pertanian. (2023). Potensi Pertanian Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Diakses dari http://kitapertaniandampit.blogspot.com
Longley, P. A., Goodchild, M. F., Maguire, D. J., & Rhind, D. W. (2015). Geographic Information Systems and Science (4th Edition). Wiley.
Siroj, R. A., Afgani, W., Fatimah, Septaria, D., Zahira, G., & Salsabila. (2024). Metode Penelitian Kuantitatif Pendekatan Ilmiah untuk Analisis Data. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 7(3), 1861–1864.
Suprastyo, D., Siregar, H., & Mulatsih, S. (2020). Analisis Distribusi Pemilikan Lahan Pertanian dan Pendapatan Usahatani di Kabupaten Karawang. Tataloka, 22(1), 61–69. https://doi.org/10.14710/tataloka.22.1.61-69
Suseno, M. A., Tain, A., & Windiana, L. (2021). Persepsi Pemuda Terhadap Pekerjaan Usaha Pertanian Kopi Di Desa Amadanom Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Jurnal Pertanian Cemara, 18(2), 9–20. https://doi.org/10.24929/fp.v18i2.1629
Syafe’i. (2016). Metode bercocok tanam dalam konteks pertanian urban. Dalam Sejarah dan Metode Pertanian Perkotaan. Bandung: Unikom Press.
Soemarwoto, Otto. (2001). Ekologi, Lingkungan Hidup, dan Pembangunan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yulianti, D., Laila Nugraha, A., & Awaluddin, M. (2023). Aplikasi Webgis Persebaran Petani Jambu Air Di Kabupaten Demak. Jurnal Geodesi Undip, April, 70.











